. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Penalaran merupakan suatu proses
berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan
penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus
dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap
sahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan
menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut
logika, di mana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “
pengkajian untuk berpikir secara sahih”. Terdapat bermacam-macam cara
penarikan kesimpulan namun untuk sesuai dengan tujuan studi yang
memusatkan diri kepada penalaran ilmiah, kita akan melakukan penelaahan
yang seksama hanya terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan yakni
logika induktif dan deduktif.
Sementara menurut Jujun
Suriasumantri, Penalaran adalah suatu proses berfikir dalam menarik
suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Sebagai suatu kegiatan
berfikir penalaran memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri pertama adalah
proses berpikir logis, dimana berpikir logis diartikan sebagai kegiatan
berpikir menurut pola tertentu atau dengan kata lain menurut logika
tertentu. Ciri yang kedua adalah sifat analitik dari proses berpikirnya.
Sifat analitik ini merupakan konsekuensi dari adanya suatu pola
berpikir tertentu. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan
berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
Pengetahuan yang
dipergunakan dalam penalaran pada dasarnya bersumber pada rasio atau
fakta. Mereka yang berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran
mengembangkan paham rasionalisme, sedangkan mereka yang menyatakan bahwa
fakta yang tertangkap lewat pengalaman manusia merupakan sumber
kebenaran mengembangkan paham empirisme.
B. Rumusan Makalah
Pada makalah ini pemakalah mengajukan beberapa rumusan masalah yaitu :
1. Apa pengertian dari berpikir deduktif ?
2. Apa pengertian dari berpikir induktif ?
3. Bagaimana strategi penggunaan pola pikir induktif-deduktif dalam pembelajaran matematika ?
C. Tujuan Makalah
Dari perumusan di atas , maka tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian dari berpikir deduktif .
2. Untuk mengetahui pengertian dari berpikir induktif .
3. Untuk mengetahui strategi penggunaan pola pikir induktif-deduktif dalam pembelajaran matematika.
II. Pembahasan
A. Pengertian Berpikir Deduktif
Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan
kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari
yang umum, lawannya induksi (dikutip Kamus Umum Bahasa Indonesia hal 273
W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka 2006)
Deduksi adalah cara
berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan
yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya
mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus
disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. ( dikutip
:Filsafat Ilmu.hal 48-49 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan.
2005)
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan
hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam
bagian-bagiannya yang khusus. (www.id.wikipedia.com).
B. Pengertian Berpikir Induktif
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau
peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum (Kamus Umum Bahasa
Indonesia, hal 444 W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka 2006)
Induksi
merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat
umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara
induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang
mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun
argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat
ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005)
Berpikir
induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak
dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang
diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
(www.id.wikipedia.com)
C. Strategi Penggunaan Pola Pikir Induktif-Deduktif Dalam Pembelajaran Matematika
Prince dan Felder (2006) menyatakan pembelajaran tradisional adalah
pembelajaran dengan pendekatan deduktif, memulai dengan teori-teori dan
meningkat ke penerapan teori. Di bidang sain dan teknik dijumpai upaya
mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka
pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit
memperhatikan pengetahuan utama mahasiswa, dan kurang atau tidak
mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan
deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan.
Bransford (dalam Prince dan Felder, 2006) melakukan penelitian dibidang
psikologi dan neurologi. Temuannya adalah: ”All new learning involves
transfer of information based on previous learning”, artinya semua
pembelajaran baru melibatkan transfer informasi berbasis pembelajara
sebelumnya.
Major (2006) menyatakan dalam pembelajaran dengan
pendekatan deduktif dimulai dengan menyajikan generalisasi atau konsep.
Dikembangkan melalui kekuatan argumen logika. Contoh urutan
pembelajaran: (1) definisi disampaikan; dan (2) memberi contoh, dan
beberapa tugas mirip contoh dikerjakan siswa dengan maksud untuk menguji
pemahaman siswa tentang definisi yang disampaikan. Major (2006) memberi
contoh pembelajaran barisan aritmetika sebagai berikut. Guru mulai
pembelajaran dengan menulis definisi dipapan tulis: ‘barisan aritmetika
adalah barisan yang memiliki beda sama’. Kemudian guru menjelaskan apa
maksud ‘memiliki beda sama’. Kemudian guru melanjutnya pembelajaran,
misalkan suku pertama barisan adalah a, dan beda b, maka a, a + b, a +
2b + … + (a + (n – 1)b) adalah barisan arimetika. Selanjutnya guru
memberi contoh dan memberi soal untuk dikerjakan siswa.
Siswa
sering mengalami kesulitan memahami makna matematika dalam pembelajaran
dengan pendekatan deduktif. Hal ini disebabkan siswa baru memahami
generalisasi atau kosep setelah disajikan berbagai contoh. Major (2006)
menyarankan dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif: (1) mulailah
dengan menyatakan generalisasi secara jelas; (2) tulis definisi dipapan
tulis; (3) jelaskan istilah-istilah dalam definisi; (4) secara hati-hati
tekankan hubungan-hubungan sifat dalam generalisasi; (5) ilustrasikan
dengan contoh; dan (5) berilah kesempatan siswa memberi atau mengerjakan
contoh berikutnya.
Alternatif pendekatan pembelajaran
lainnya selain dengan pembelajaran pendekatan deduktif adalah dengan
pendekatan induktif . Beberapa contoh pembelajaran dengan pendekatan
induktif misalnya pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis masalah,
pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis kasus, dan
pembelajaran penemuan. Pembelajaran dengan pendekatan induktif dimulai
dengan melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan
menginterpretasikannya, menganalisis kasus, atau memberi masalah
konstekstual, siswa dibimbing memahami konsep, aturan-aturan, dan
prosedur-prosedur berdasar pengamatan siswa sendiri.
Major (2006) berpendapat bahwa pembelajaran dengan pendekatan induktif
efektif untuk mengajarkan konsep atau generalisasi. Pembelajaran diawali
dengan memberikan contoh-contoh atau kasus khusus menuju konsep atau
generalisasi. Siswa melakukan sejumlah pengamatan yang kemudian
membangun dalam suatu konsep atau geralisasi. Siswa tidak harus memiliki
pengetahuan utama berupa abstraksi, tetapi sampai pada abstraksi
tersebut setelah mengamati dan menganalisis apa yang diamati.
Dalam fase kegiatan induktif-deduktif ini siswa diminta memecahkan soal
atau masalah. Kemp (1994: 90) menyatakan ada dua kategori yang dapat
dipakai dalam membahas materi pembelajaran yaitu metode induktif dan
deduktif. Pada prinsipnya matematika bersifat deduktif. Matematika
sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif. Pola pikir deduktif
secara sederhana dapat dikatakan pemikiran “yang berpangkal dari hal
yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat
khusus” Soedjadi (2000: 16). Dalam kegiatan memecahkan masalah siswa
dapat terlibat berpikir dengan dengan menggunakan pola pikir induktif,
pola pikir deduktif, atau keduanya digunakan secara berganti
III. Penutup
Agar siswa dapat belajar matematika di sekolah secara bermakna, siswa
dituntut terampil memahami konsep-konsep matematika dari pola pikir
induktif menuju deduktif. Pembelajaran matematika beracuan pendekatan
tertentu seperti konstruktivisme atau CTL dengan melibatkan penggunaan
pola pikir induktif-deduktif merupakan salah satu alternatif
pembelajaran matematika yang mampu menciptakan suasana pembelajaran yang
berpusat pada siswa.
Dalam pemecahan masalah siswa kadang
menggunakan pola pikir induktif, kadang deduktif, dan kadang keduanya.
Dalam pemecahan masalah kadang sulit memisahkan antara penggunaan pola
pikir induktif dan deduktif. Pada prinsipnya, dalam pembelajaran
matematika beracuan konsruktivisme penggunaan pola pikir induktif dan
deduktif keduanya dapat digunakan untuk membangun misalnya suatu konsep
matematika berdasar pengalaman siswa sendiri.
Pembelajaran matematika dengan fokus pada pemahaman konsep, penalaran
dan komunikasi, dan pemecahan masalah dapat diawali menggunakan pola
pikir induktif melalui pengalaman-pengalaman khusus yang dialami siswa.
Pertama-tama siswa dapat diajak mengkonstruksi pengetahuan matematika
dengan menggunakan pola pikir induktif. Misalnya kegiatan pembelajaran
dapat dimulai dengan menyajikan beberapa contoh atau fakta yang
teramati, membuat daftar sifat-sifat yang muncul, memperkirakan hasil
yang mungkin, dan kemudian jika memungkinkan siswa dapat diarahkan
menyusun generalisasi secara deduktif. Secara umum dalam memecahkan
masalah siswa menggunakan pola pikir induktif-deduktif.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta :PT Raja Grafindo Persada, 2010.
Tim
Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu Sebagai
Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta : Penerbit Liberty, 2007
Suriasumantri, Jujun S, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : PT gelora Aksara Pratama, 1990
Rochmad,
Ayatullah S. (2009). PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERACUAN KONSTRUKTIVISME.
Makalah telah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika:
Sertifikasi Guru: Meningkatkan Kualitas Matematika di Indonesia. Di
Kampus Pascasarjana UNNES Semarang, tanggal 16 Januari 2008 .Tersedia:
http://rochmad-unnes.blogspot.com/2008/01/penggunaan-pola-pikir-induktif-deduktif.html
.Diakses : 16 November 2011
Santoso, Slamet. (2008). Kuliah : Metpen Kuantitatif. Tersedia :
http://ssantoso.blogspot.com/2008/08/penalaran-induktif-dan-deduktif-materi.html. Diakses : 15 Nopember 2011
Selasa, 25 Maret 2014
berpikir induktif
BAB I
Pendahuluan
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi
– proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui
atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang
sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.Dalam penalaran, proposisi dijadikan sebagai dasar penyimpulan yang disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Dalam pertemuan sebelumnya kita telah membahas dan mendiskusikan tentang dasar dalam proses penalaran sebagai landasan berargumentasi yang meliputi inferensi, implikasi, evidensi serta cara untuk menilai fakta dan evidensi dalam berargumentasi. Maka kini akan dibahas mengenai proposisi yang lebih terperinci sebagai sebuah landasan dalam menyusun kesimpulan yang dapat diterima oleh akal sehat. Dalam makalah ini juga akan dijelaskan mengenai beberapa macam corak penalaran yang dipakai sebagai alat argumentasi. Secara garis besar makalah ini membahas tentang berpikir induktif dan deduktif.
Induksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari satu arah atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Proses penalaran yang induktif dapat dibedakan atas bermacam-macam variasi yang akan dijelaskan lebih lanjut yaitu berupa generalisasi, hipotesis dan teori, analogi induktif, kausal, dan sebagainya.
Deduksi merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari suatu proposisi yang telah ada menuju kepada proposisi baru yang akan membentuk kesimpulan. Dalam induksi, untuk menarik kesimpulan, maka penulis harus mengumpulkan bahan – bahan atau fakta – fakta terlebih dahulu. Sementara dalam penulisan deduktif penulis tidak perlu mengumpulkan fakta – fakta itu, karena yang diperlukan penulis hanyalah suatu proposisi umum dan proposisi yang bersifat mengidentifikasi suatu peristiwa khusus yang berhubungan dengan proposisi umum tadi. Bila identifikasi yang dilakukan benar dan proposisinya benar,maka dapat diharapkan bahwa kesimpulannya pun akan benar.
BAB II
INDUKSI
2.1 Pengertian InduksiInduksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Proses penalaran ini mulai bergerak dari penelitian dan evaluasi atas fenomena yang ada, maka disebut sebagai sebuah corak berpikir yang ilmiah karena perlu proses penalaran yang ilmiah dalam penalaran induktif.
Pengertian fenomena sebagai landasan induktif harus diartikan sebagai data maupun sebagai pernyataan-pernyataan yang tentunya bersifat factual. Sehingga induksi dapat berasal dari fenomena yang berbentuk fakta atau berbentuk pernyataan–pernyataan (proposisi-proposisi). Proses penalaran induktif dapat dibedakan lagi atas bermacam-macam variasi yaitu: generalisasi, hipotesa dan teori, analogi induktif, kausal, dll.
2.2 Generalisasi
Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak belakang dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena – fenomena itu. Generalisasi akan mempunyai makna penting, jika kesimpulan yang diturunkan dari fenomena tadi bukan saja mencakup semua fenomena itu, tetapi juga harus berlaku pada semua fenomena-fenomena lain yang sejenis yang belum diselediki.
Mengenai data atau fakta dalam pengertian fenomenal individual tadi, selalu terarah kepada pengertian mengenai sesuatu hal yang individual. Dalam kenyataannya data atau fakta yang dipergunakan itu sebenarnya merupakan generalisasi juga , yang tidak lain dari sebuah hasil penalaran yang induktif.
Contoh : bila seseorang berkata bahwa mobil adalah semacam kendaraan pengangkut, maka pengertian mobil dan kendaraan pengangkut merupakan hasil generalisasi juga. Dari bermacam-macam tipe kendaraan dengan ciri-ciri tertentu ia mendapatkan sebuah gagasan mengenai mobil, sedangkan dari bermacam-macam alat untuk mengangkut sesuatu lahirlah abstraksi yang lebih tinggi (generalisasi lagi) mengenai kendaraan pengangkut.
Contoh lainnya:
(1) jika dipanaskan, besi memuai.
(2) Jika dipanaskan, tembaga memuai.
(3) Jika dipanaskan, emas memuai.
(4) Jika dipanaskan, platina memuai
(5) Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
Generalisasi sendiri dapat dibedakan menjadi loncatan induktif dan bukan loncatan induktif.
- Loncatan induktif
- Tanpa loncatan induktif
Oleh karena itu, perbedaan antara generalisasi dengan loncatan induktif dan tanpa loncatan induktif sebenarnya terletak dalam persoalan jumlah fenomena yang diperlukan. Sebenarnya generalisasi merupakan proses yang biasa dilakukan oleh setiap orang. Bagi orang kebanyakan, generalisasi itu tidak lain dari penambahan setengah sadar akan hal-hal umum berdasarkan pengalamannya dari hari ke hari. Bila suatu waktu ia mendapat hardikan dari atasannya karena membuat kesalahan, maka belum ada sikap yang timbul pada dirinya.
Tetapi bila peristiwa semacam itu dialaminya berulang-ulang kali, juga dialami oleh kawan-kawan lainnya, maka mau tidak mau akan timbul suatu generalisasi mengenai atasan itu: Atasannya adalah seorang yang kejam. Arus baliknya akan menimbulakan suatu sikap : karena atasan ini seseorang yang kejam, maka jangan membuat kesalahan kecil sekalipun, agar tadak mendapat umpatan dan hardikan yang tidak perlu.
Proses untuk merumuskan sebuah generalisasi dapat digambarkan dalam skema berikut:
Karena generalisasi itu sering mendahului observasi atas sejumlah peristiwa yang cukup meyakinkan, maka perlu diadakan pengecekan atau evaluasi atas generalisasi tersebut. Pengujian atau evaluasi tersebut terdiri dari:
- Harus diketahui apakah sudah cukup banyak jumlah peristiwa yang diselediki sebagai dasar generalisasi tersebut (ciri kuantitatif)
- Apakah peristiwa-peristiwa itu merupakan contoh yang baik (sampel yang baik :ciri kualitatifnya) bagi semua jenis peristiwa yang diselidiki? Dengan memilih peristiwa-peristiwa yang khusus, boleh dikatakan bahwa generalisasi itu akan kuat kedudukannya.
- Hal lain yang perlu diperhatikan adalah memperhitungkan kekecualian-kekecualian yang tidak sejalan dengan generalisasi itu. Kekecualian itu harus diperhitungkan denagn dasar yang rasional dan pemikiran logis.
- Perumusan generalisasi itu sendiri juga harus absah.
2.3.1 Hipotesis
Secara bahasa hipotesis berasal dari dua kata, yaitu hypo artinya sebelum dan thesis artinya pernyataan atau pendapat. Secara istilah hipotesis adalah suatu pernyataan yang pada waktu diungkapkan belum diketahui kebenarannya, tetapi memungkinkan untuk diuji dalam kenyataan empiris. Karena hipotesis merupakan pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya.
Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.
Ketika berfikir untuk sehari-hari, orang sering menyebut hipotesis sebagai sebuah anggapan, perkiraan, dugaan, dan sebagainya. Hipotesis juga berarti sebuah pernyataan atau proposisi yang mengatakan bahwa diantara sejumlah fakta ada hubungan tertentu. Proposisi inilah yang akan membentuk proses terbentuknya sebuah hipotesis di dalam penelitian, salah satu diantaranya yaitu Penelitian sosial.
Proses pembentukan hipotesis merupakan sebuah proses penalaran, yang melalui tahap-tahap tertentu. Hal demikian juga terjadi dalam pembuatan hipotesis ilmiah, yang dilakukan dengan sadar, teliti, dan terarah. Sehingga dapat dikatakan bahwa sebuah Hipotesis merupakan satu tipe proposisi yang langsung dapat diuji.
Penetapan hipotesis dalam sebuah penelitian memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
2. Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
3. Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.
- Ciri Hipotesis Yang Baik
Perumusan hipotesis yang baik dan benar harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
1. Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
2. Hipotesis berisi penyataan mengenai hubungan antar paling sedikit dua variabel penelitian.
3. Hipotesis harus sesuai dengan fakta dan dapat menerangkan fakta.
4. Hipotesis harus dapat diuji (testable). Hipotesis dapat duji secara spesifik menunjukkan bagaimana variabel-variabel penelitian itu diukur dan bagaimana prediksi hubungan atau pengaruh antar variabel termaksud.
5. Hipotesis harus sederhana (spesifik) dan terbatas, agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian.
Beberapa contoh hipotesis penelitian yang memenuhi kriteria yang tersebut di atas:
1. Olahraga teratur dengan dosis rendah selama 2 bulan dapat menurunkan kadar gula darah secara signifikan pada pasien IDDM.
2. Pemberian tambahan susu sebanyak 3 gelas per hari pada bayi umur 3 bulan meningkatkan berat badan secara signifikan.
- Jenis-Jenis Hipotesis
Penetapan hipotesis tentu didasarkan pada luas dan dalamnya serta mempertimbangkan sifat dari masalah penelitian. Oleh karena itu, hipotesispun bermacam-macam, ada yang didekati dengan cara pandang: sifat, analisis, dan tingkat kesenjangan yang mungkin muncul pada saat penetapan hipotesis.
- Hipotesis dua arah dan hipotesis satu arah
Contoh hipotesis dua arah:
1. Ada perbedaan tingkat peningkatan berat badan bayi antara bayi yang memperoleh susu tambah 3 gelas dari ibu yang berperan ganda dan tidak berperan ganda.
2. Ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan prestasi belajar siswa.
Hipotesis dua-arah memang kurang spesifik, oleh karena itu perlu diformulasikan dalam hipotesis satu-arah.
Contoh:
1. Terdapat perbedaan peningkatan berat badan bayi yang signifikan antara bayi yang memperoleh susu tambah 3 gelas dari ibu yang berperan ganda dan tidak berperan ganda.
2. Ada hubungan yang cukup kuat antara tingkat kecemasan siswa dengan prestasi belajar siswa.
- Hipotesis dalam penelitian
Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian. Dalam masalah atau tujuan penelitian tampak apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak. Contohnya yaitu Penelitian eksplorasi yang tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi tidak menggunakan hipotesis. Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur secara cermat tentang fenomena yang diteliti tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat menggunakan hipotesis. Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang bertujuan menjelaskan hubungan antar-variabel adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis.Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian, yaitu:
- Untuk menguji teori,
- Mendorong munculnya teori,
- Menerangkan fenomena sosial,
- Sebagai pedomanuntuk mengarahkan penelitian,
- Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.
- Tahap-tahap pembentukan hipotesis secara umum
tahap-tahap pembentukan hipotesa pada umumnya sebagai berikut:- Penentuan masalah.
- Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis).
- Formulasi hipotesa.
Pembentukan hipotesa dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesa diciptakan saat terdapat hubungan tertentu diantara sejumlah fakta. Sebagai contoh sebuah anekdot yang jelas menggambarkan sifat penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa sebuah apel jatuh dari pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang dikenal dengan hukum gravitasi.
- Pengujian hipotesa.
artinya mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat diobservasi dalam istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi(pembenaran). Apabila hipotesa terbukti cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi. Terjadi falsifikasi(penyalahan) jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak sesuai dengan hipotesa, dan bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa tidak terbantah oleh fakta yang dinamakan koroborasi(corroboration). Hipotesa yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.
- Aplikasi/penerapan
apabila hipotesa itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan (dalam istilah ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta. Kemudian harus dapat diverifikasikan/koroborasikan dengan fakta.
2.3.2 Teori
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.Teori juga merupakan suatu hipotesis yang telah terbukti kebenarannya. Manusia membangun teori untuk menjelaskan, meramalkan, dan menguasai fenomena tertentu misalnya, benda-benda mati, kejadian-kejadian di alam, atau tingkah laku hewan. Sering kali, teori dipandang sebagai suatu model atas kenyataan. Misalnya : apabila kucing mengeong berarti minta makan.
- Hubungan antara hipotesis dengan teori
Hipotesis ini merupakan suatu jenis proposisi yang dirumuskan sebagai jawaban tentatif atas suatu masalah dan kemudian diuji secara empiris. Sebagai suatu jenis proposisi, umumnya hipotesis menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang di dalamnya pernyataan-pernyataan hubungan tersebut telah diformulasikan dalam kerangka teoritis. Hipotesis ini, diturunkan, atau bersumber dari teori dan tinjauan literatur yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.
Oleh karena itu teori yang tepat akan menghasilkan hipotesis yang tepat untuk digunakan sebagai jawaban sementara atas masalah yang diteliti atau dipelajari dalam penelitian. Dalam penelitian kuantitatif peneliti menguji suatu teori. Untuk meguji teori tersebut, peneliti menguji hipotesis yang diturunkan dari teori.
2.4 Analogi
Analogi dalam bahasa Indonesia adalah kias (Arab: Qasa=mengukur, membandingkan). Analogi adalah suatu perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat benar dengan cara membandingkannya dengan gagasan lain yang mempunyai hubungan dengan gagasan yang pertama.
Analogi merupakan salah satu teknik dalam proses penalaran induktif. Sehingga analogi kadang-kadang disebut juga sebagai analogi induktif, yaitu proses penalaran dari satu fenomena menuju fenomena lain yang sejenis kemudian disimpulkan bahwa apa yang terjadi pada fenomena yang pertama akan terjadi juga pada fenomena yang lain.
Tujuan :
1. Membantu seseorang menambah dan mempercepatkan kefahaman tentang sesuatu perkara.
2. Membuat justifikasi terhadap rumusan yang dibuat berdasarkan persefahaman antara satu objek dengan yang lain.
3. Untuk menonjolkan ciri am yang terdapat pada objek-objek tersebut.
4. Memungkinkan seseorang mencipta analogi sendiri.
2.4.1 Macam-macam analogi
a. Analogi Induktif
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan. Misalnya, Tim Uber Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka tim Thomas Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.
b. Analogi Deklaratif
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai. Misalnya, untuk penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.
Contoh Analogi :
1. Badannya kurus macam lidi
2. Benda itu bujur macam telur
3. Bangunan di Kuala Lumpur tumbuh macam cendawan
4. Kanak-kanak itu lapar seperti anak burung yang kehilangan ibu.
5. Orang itu garang macam harimau.
2.5 Hubungan Kausal
Hubungan kausal sering diartikan sebagai penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan, hubungan sebab – akibat (hubungan kausal) dapat berupa sebab yang sampai kepada kesimpulan yang merupakan akibat atau sebaliknya. Pada umumnya hubungan sebab akibat dapat berlangsungdalam tiga pola, yaitu sebab ke akibat, akibat ke sebab, dan akibat ke akibat. Namun, pola yang umum dipakai adalah sebab ke akibat dan akibat ke sebab. Ada 3 jenis hubungan kausal, yaitu:
(1). Hubungan sebab-akibat.
Yaitu dimulai dengan mengemukakan fakta yang menjadi sebab dan sampai kepada kesimpulan yang menjadi akibat. Pada pola sebab ke akibat sebagai gagasan pokok adalah akibat, sedangkan sebab merupakan gagasan penjelas.
Contoh:
Anak-anak berumur 7 tahun mulai memasuki usia sekolah. Mereka mulai mengembangkan interaksi social dilingkungan tempatnya menimba ilmu. Mereka bergaul dengan teman-teman yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Dengan demikian, berbagai karakter anak mulai terlihat karena proses sosialisasi.
(2). Hubungan akibat-sebab
Yaitu hubungan yang dimulai dengan fakta yang menjadi akibat, kemudian dari fakta itu dianalisis untuk mencari sebabnya.
Contoh:
Dalam bergaul anak dapat berprilaku aktif. Sebaliknya, ada pula anak yang masih malu-malu dan selalu dan mengandalkan temannya. Namun, tidak dapat di pungkiri jika ada anak yang selalu mambuat ulah. Hal ini disebabkan oleh interaksi sosial yang dilakukan anak ketika memasuki usia sekolah.
(3). Hubungan sebab-akibat1-akibat2
Yaitu dimulai dari suatu sebab yang dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikianlah seterusnya hingga timbul rangkaian beberapa akibat.
Contoh.
Mulai tanggal 2 april 1975 harga berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, diesel, minyak pelumas, dan lain-lainnya dinaikan harganya, karena pemerintah ingin mengurangi subsidinya, dengan harapan supaya ekonomi Indonesia makin wajar. Karena harga bahan baker naik, sudah barang tentu biaya angkutanpun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti akan ikut naik, karena biaya tambahan untuk transport harus diperhitungkan. Naiknya harga barang akan terasa berat untuk rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang dan jasa harus diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan rakyat.
2.6 Induksi dalam metode eksposisi
Eksposisi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
Langkah menyusun eksposisi:
• Menentukan topik/tema , Menetapkan tujuan, Mengumpulkan data dari berbagai sumber, Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
• Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.
BAB III
DEDUKSI
3.1 Pengertian DeduksiKata deduksi berasal dari bahasa latin yang artinya menghantar dari suatu hal ke hal yang lain. Sebagai suatu istilah penalaran, deduksi adalah suatu proses penalaran (berpikir) yang bertolak dari proposisi yang telah ada yang menuju sebuah proposisi baru yang menjadi sebuah kesimpulan. Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Adapun berbagai macam corak berpikir deduktif adalah silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme disjungtif, atau silogisme alternative, entimem, rantai deduksi dan sebagainya.
3.2. Silogisme Kategorial
3.2.1 Pengertian
Silogisme adalah suatu bentuk penalaran yang berusaha menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan suatu kesimpulan atau inferensi yang merupakan proposisi yang ketiga. Kedua proposisi yang pertama disebut dengan premis.
Silogisme kategorial dibatasi sebagai suatu argument deduktif yang mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari tiga (dan hanya tiga) proposisi kategorial, yang disusun menjadi tiga term yang muncul dalam rangkaian pernyataan itu, dan tiap term hanya boleh muncul dalam dua pernyataan, misalnya:
(1) Semua karyawan adalah PNS.
(2) Semua PNS adalah peserta Jamsostek.
(3) Jadi, semua karyawan adalah peserta Jamsostek.
Dalam rangkaian diatas terdapat tiga proposisi: (1) + (2) + (3). Dalam contoh ini rangkaian kategorial hanya terdapat dalam tiga term, dan tiap term muncul dalam dua proposisi. Term preidkat dari konklusi adalah term mayor dari seluruh silogisme itu. Sedangkan subyek dari konklusinya disebut term minor dari silogisme. Sementara term yang muncul dalam kedua premis namun tidak muncul dalam kesimpulan disebut premis tengah.
3.3 Proposisi Silogisme
Dalam seluruh silogisme hanya terdapat 3 term, yaitu term mayor, term minor dan term tengah, dan dalam silogisme hanya terdapat tiga proposisi, yaitu dua proposisi yang disebut premis dan sebuah proposisi yang disebut konklusi.
(1) Premis Mayor
Premis yang mengandung term mayor dari silogisme itu. Premis mayor adalah proposisi yang dianggap bennar bagi semua anggota kelas tertentu. Dalam contoh sebelumnya yaitu ‘semua karyawan adalah PNS’.
(2) Premis Minor
Premis yang mengandung term minor dari silogisme itu. Premis mnor adalah prposisi yang mengidentifikasi sebuah peristiwa (fenomena) yang khusus sebagai anggota dari kelas tadi. Dalam contoh adalah ‘semua PNS adalah peserta Jamsostek’
(3) Kesimpulan
Proposisi yang mengatakan bahwa apa yang benar tentang seluruh kelas juga akan benar atau berlaku bagi anggota tertentu. Dalam hal ini, jika benar semua karyawan adalah PNS, maka semua karyawan yang adalah peserta jamsostek juga harus merupakann PNS.
Dalam silogisme diatas peserta jamsostek merupakan term tengah karena bertindak sebagai penghubung antara term mayor dan term minor.
Menguji kesahihan dan kebenarannya
Untuk menilai silogisme harus dibedakan terlebih dahulu dua pengertian yang sering dikacaukan yaitu kesahihan (validitas;keabsahan) dssn kebenaran (truth). Validitas dari suatu silogisme semuanya tergantung dari bentuk logisnya, sedangkan semua kebenaran tergantung dari fakta-fakta yang mendukug seua pernyataan. Bentuk logis sebuah silogisme ditentukan oleh:
(1) bentuk logis dari pernyataan-pernyataan kategorial alam silogisme.
(2) Cara penyusunan term dalam masing-masing pernyataan.
Bentuk sebuah silogisme adalah fungsi dari modul dan figure dari silogisme tadi. Contoh :
Premis mayor : manusia adalah makhluk berakal budi.
Premis minor : Alibaba adalah seorang manusia
Kesimpulan : sebab itu, Alibaba adalah mkhluk berakal budi.
Dalam contoh diatas, figure silogismenya adalah: manusia – makhluk berakal budi, alibaba – manusia, dan alibaba – makhluk berakal budi. Atau dengan symbol S – P, O – S, O – P. Jadi menyatakan silogisme sama dengan menyebutkan figure dan modusnya.
Premis mayor dapat dibentuk proposisi A, E, I atau O. Demikian pula premis minornya. Berarti dari kedua premis ini dapat diperoleh 4 x 4 kombinasi atau 16 kombinasi. Selanjutnya dari 16 konbinasi ini dapat diturunkan untuk setiap masing – masing kombinasi atau konklusi yang bias berbentuk proposisi A, E, I, atau O. Dengan demikian akan dihasilkan modus sebanyak 64 modus. Karena setiap modus memiliki kemungkinan 4 figur bentuk silogistis maka dihasilkan 256 bentuk silogistis yang belunm tentu valid dan memerlukan pengujian terlebih dahulu.
3.4 Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotesa. Silogisme hipotesis bertolak dari suatu pendirian, bahwa ada kemungkinan apa yang disebut dalam proposisi itu tidak ada atau tidak terjadi. Premis mayornya mengandung pernyataan yang bersifat hipotesis. Oleh sebab itu rumus proposisi mayor silogisme ini adalah:
Jika P, maka Q
Contoh 1:Premis Mayor : Jika tidak turun hujan, maka Jazira akan pergi kencan.
Premis Minor : Hujan turun
Konklusi : Sebab itu Jazira tidak akan pergi kencan
Atau
Premis Mayor : Jika tidak turun hujan, maka Jazira akan pergi kencan.Premis Minor : Hujan tidak turun
Konklusi : Sebab itu Jazira akan pergi kencan
Walaupun premis mayor bersifat hipotesis, premis minor dan konklusinya tetap bersifat kategorial. Premis mayor sebenarnya mengandung dua pernyataan kategorial, yang dalam contoh hujan tidak turun, dan Jazira akan pergi kencan. Bagian pertamanya disebut anteseden, sedangkan bagian keduanya disebut akibat.
Dalam silogisme hipotesis berasusmsi bahwa ‘kebenaran anteseden akan mempengaruhi kebenaran akibat; kesalahan anteseden akan mengakibatkan kesalahan pada akibatnya’.
3.1.3 Silogisme Alternatif
Jenis silogisme alternative biasa juga disebut dengan silogisme disjungtif, karena proposisi mayornya merupakan sebuah proposisi alternative, yaitu proposisi yang mengandung kemungkinan-kemungkinan atau pilihan. Sebaliknya proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya. Konklusi silogisme ini tergantung pada premis minornya, jika premis minornya menerima satu alternative maka alternative lainnya akan ditolak; dan jika premis minornya menolak satu alternative maka alternatik lainnya akan diterima dalam konklusi.
Contoh :
Premis Mayor : Zian ada di sekolah atau di rumah.
Premis Minor : Zian ada di sekolah
Konklusi : Sebab itu, Zian tidak ada dirumah
Secara praktis kita juga sering bertindak seperti itu. Untuk menetapkan sesuatu atau menemukan sesuatu secara sistematis kita bertindak sesuai dengan pola silogisme alternative diatas.
2.3 Entimem
Silogisme sebagai suatau cara untuk menyatakan pikiran tampaknya bersifat artificial. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya silogisme itu muncul hanya dengan dua proposisi, salah satunya dihilangkan. Walaupun dihilangkan,proposisi itu tetap dianggap ada dalam pikiran dan dianggap diketahui pula oleh orang lain. Bentuk semacam ini dinamakan entimem (dari enthymeme>enthymema,yunani. Kata itu berasal dari kata kerja enthymeisthai yang berarti ‘simpan dalam ingatan’). Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung.
Misalnya sebuah silogisme asli akan dinyatakan oleh seoarang pengasuh ruangan olahraga dalam sebuah harian sebagai berikut:
Premis mayor : Siapa saja yang dipilih mengikuti pertandingan Thomas Cup adalah seorang pemain kawakan.
Premis minor : Rudy Hartono terpilih untuk mengikuti pertandingan Thomas Cup
Konklusi : Sebab itu Rudy Hartono adalah seorang pemain (bulu tangkis) kawakan.
Bila pengasuh ruangan olahraga menulis seperti diatas dan semua gaya tulisan sehari-hari mengikuti corak tersebut, maka akan dirasakan bahwa tulisannya terlalu kaku. Sebab itu ia akan mengambil bentuk lain, yaitu entimem. Bentuk itu akan berbunyi,”Rudi Hartono adalah seorang pemain bulu tangkis kawakan, karena terpilih untuk mengikuti pertandingan Thomas Cup.”
Contoh lain:
Silogisme
PU: Binatang mamalia melahirkan anak dan tidak bertelur.
PK: Ikan paus binatang binatang mamalia.
K : Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur.
Entimen
Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur karena termasuk binatang mamalia.
Contoh entimem :
- Premis mayor : Semua orang yang membuat banyak penelitian adalah sarjana besar.
Konklusi : Sebab itu, Prof.Hasan adalah seorang sarjana besar.
- Premis mayor : Semua sarjana yang besar membuat banyak penelitian.
Konklusi : Sebab itu, Prof. Hasan membuat banyak penelitian .
Dengan mengembalikan entimem 1 dan 2 kebentuk silogismenya tampak bahwa proposisi yang dihilangkan itu adalah proposisi mayor. Dengan demikian proposisi minor dan konklusinya langsung dikaitkan dalam sebauh kalimat.
Penghilangan sebuah proposisi kadang-kadang dilakukan dengan sengaja, karena penulis atau pembicara mengetahui bahwa bila kita menilai dengan cermat premis-premis yang ada,kita akan menolak pendapatnya. Sebab itu pada waktu menghadapi sebuah entimem diragukan kebenarannya, maka salah satu premisnya juga duragukan kebenaranya. Kalu entimem ditolak,maka salah satu proposisinya ditolak kebenarannya.
BAB IV
PENUTUP
4.1 KesimpulanDalam pembuatan proposisi argumentasi maka digunakan teknik – teknik penalaran dan pengujian data yang ada. Dari dua system yang telah dipaparkan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bila kita membandingkan penalaran dalam induksi dan penalaran dalam deduksi, maka kesimpulan dari induksi mempunyai kemungkinan kebenaran, dan benar tidaknya proposisi itu tergantung pada kebenaran dari data yang dipergunakan.
Dalam penggunaan metode induksi, untuk membuat suatu kesimpulan penulis harus mengumpulkan data dan fakta yang terkait terlebih dahulu. Semakin banyak dan semakin baik kualitas datanya maka akan semakin mantap kesimpulan yang dihasilkan. Sedangkan dalam pembuatan proposisi dengan cara deduktif penulis tidak perlu mengumpulkan fakta-fakta yang ada, penulis hanya perlu suatu proposisi umum atau proposisi yang mampu mengidentifikasi suatu peristiwa khusus secara berkaitan dengan proposisi umum tadi.
Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis (tgl akses : 19 Feb 2011) http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran#Metode_deduktif (tgl akses : 19 Feb 2011 )http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100915043818AAxuA8k
(tgl akses : 19 Feb 2011)
http://www.scribd.com/doc/25095005/Contoh-Paragraf-Deduktif-Induktif
(tgl : 19 Feb 2011)
http://elfalasy88.wordpress.com/2008/08/21/analogi/(tgl akses : 19 Feb 2011)
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori (tgl akses : 19 Feb 2011)
http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran#Metode_deduktif (tgl akses : 19 Feb 2011)
http://members.tripod.com/noriah_arahman/analogi.htm (tgl akses : 19 Feb 2011)
Keraf, Gorys. Argumentasi dan Narasi. 1992. Jakarta: Gramedia
W.J.S.Poerwadarminta. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2006. Jakarta: Balai Pustaka.
karangan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai bagian dari
kegiatan berbahasa, menulis berkaitan erat dengan aktivitas berpikir. Keduanya
saling melengkapi. Menurut Syafie’ie (1988:42), secara psikologis menulis
memerlukan kerja otak, kesabaran pikiran, kehalusan perasan, kemauan yang
keras. Menulis dan berpikir merupakan dua kegiatan yang dilakukan secara
bersama dan berulang-ulang. Dengan kata lain, tulisan adalah wadah yang
sekaligus merupakan hasil pemikiran. Melalui kegiatan menulis, penulis dapat mengkomunikasikan
pikirannya. Melalui kegiatan berpikir, penulis dapat meningkatkan kemampuannya
dalam menulis.
Mengemukakan gagasan secara tertulis tidaklah mudah. di samping dituntut
kemampuan berpikir yang memadai, juga dituntut berbagai aspek terkait lainnya,
misalnya penguasaan materi tulisan, pengetahuan bahasa tulis, dan motivasi yang
kuat. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, setiap penulis hendaknya memiliki
tiga keterampilan dasar dalam menulis, yaitu keterampilan berbahasa,
keterampilan penyajian, dan keterampilan pewajahan. Ketiga keterampilan ini
harus saling menunjang atau isi-mengisi. Kegagalan dalam salah satu komponen
dapat mengakibatkan gangguan dalam menuangkan ide secara tertulis.
Karangan adalah suatu karya tulis hasil dari kegiatan seseorang
untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada
pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian
adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.
1.1 Rumusan Masalah
a.
Apa yang dimaksud dengan
karangan?
b.
Bagaimana teknik pembuatan
karangan berdasarkan kriteria dan teknik penulisannya?
c.
Dimanakah alinea awal, alinea tengah dan
alinea akhir dalam suatu karangan?
d.
Kapan suatu karangan
dikatakan narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, atau
persuasi?
e.
Mengapa karangan narasi
dibedakan menjadi karangan narasi fakta atau fiksi?
1.2 Tujuan
a)
Agar mahasiswa mengetahui pengertian
karangan.
b)
Agar mahasiswa memahami proses pembuatan
karangan berdasarkan kriteria dan teknik penulisannya?
c)
Agar mahasiswa dapat mengetahui jenis -
jenis karangan beserta contohnya.
BAB II
PEMBAHASAN
Karangan adalah karya tulis
hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya
melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Untuk dapat mengarang suatu
tulisan perlu terlebih dahulu mengerti dan memahami beberapa pengertian yang menyangkut
kegiatan itu :
- Mengarang adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikan melalui bahasa tulis kepada masyarakat pembaca untuk dipahami.
- Karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat pembaca.
- Pengarang adalah seseprang yang karena kegemarannya atau berdasarkan bidang kerjanya melakukan kegiatan mengarang.
- Karang-mengarang adalah kegiatan atau pekerjaan.
B.
Tujuan
Mengarang
Tujuan utama menulis
atau mengarang adalah sebagai sarana komunikasi tidak langsung. Tujuan menulis
banyak sekali ragamnya. Tujuan menulis secara umum adalah memberikan arahan,
menjelaskan sesuatu, menceritakan kejadian, meringkaskan, dan menyakinkan
(Semi, 2003:14-154). Menurut Syafie’ie (1988:51-52), tujuan penulisan dapat
diklasifikasikan sebagai berikut.
1) mengubah keyakinan pembaca;
1) mengubah keyakinan pembaca;
2) menanamkan pemahaman
sesuatu terhadap pembaca;
3) merangsang proses
berpikir pembaca;
4) menyenangkan atau
menghibur pembaca;
5)
memberitahu pembaca; dan
6) memotivasi pembaca.
C. Penulisan Garis Besar Karangan
1.
Proses penyusunan garis besar
Setiap karangan mengandung ide dari pengarang . proses
mengarang dimulai dengan lahirnya sebuah ide induk yang terpikirkan atau
ditemukan oleh seseorang yang akan mengarang. Ide induk itu biasanya terlampau
luas, cukup kabur, dan perlu diolah lebih lanjut untuk menjadi suatu topic atau
pokok soal karangan yang memadai.
Ide induk yang menjadi pangkal awal sesuatu karangan hendaknya juga
dikembangkan. Setelah ide induk dikembangkan, memilih salah satu di
antara rincian ide-ide yang muncul untuk dijadikan topik karangan. Topik dibatasi
dengan sebuah tema tertentu. Tema adalah sesuatu segi, unsur, atau faktor dari
topik yang akan dijadikan pusat pembicaraan. Jadi, pada topik itu ditentukan
salah satu segi, unsur, atau faktornya yang akan dijadikan acara pembicaraan.
Topik yang telah dibatasi dengan tema itu merupakan pendapat atau pangkal
tolak pengarang yang setelah ditulis lengkap menjadi karangan yang
diharapkannya. Pendapat atau pangkal tolak pengarang dapat lah disebut ide
pokok karangan yang bisa dan sebaiknya dirumuskan dalam sebuah kalimat ide
pokok. Kalimat ide pokok itu dapat dikatakan merupakan inti dari seluruh
karangan.
Langkah yang terakhir mengurai rumusan kalimat ide pokok menjadi sebuah
garis besar karangan. Garis besar, rangka, atau disebut juga outline adalah
suatu rencana karangan yang menunjukan ide-ide (dari ide pokok sampai ide
pendukung dan ide penegas) yang berhubungan satu sama lain secara tertib untuk
kemudian dikembangkan menjadi sebuah karangan yang lengkap dan utuh.
Demikian, secara ringkas proses ide induk menjadi garis besar karangan
menempuh enam langkah yang berikut :
a.
Mengembangbiakan ide induk.
b.
Memilih salah satu ide menjadi pokok soal yang akan ditulis.
c.
Membatasi topik dengan sesuatu segi/unsur/factor.
d.
Merumuskan topik berikut temanya dalam sebuah pernyataan.
e.
Mengurai rumusan ide pokok menjadi kerangka karangan.
2. Manfaat Garis Besar Karangan
Mengenai pentingnya dan manfaat garis besar karangan, tanpa outline
acapkali masalah dan uraian yang disuguhkan menjadi kabur, kurang jelas, banyak
bahan yang terlupa, ada bagian yang sejajar tetapi di uaraikan tidak seimbang.
Dari outline, tampak tubuh karangan secara keseluruhan. Outline merupakan
maniatur karangan. Struktur dan sistematika terlihat jelas dari
outline. Dengan outline dapat memperhatikan bagian-bagian atau detail-detail
karangan secara utuh dan total.
D. Penulisan karangan yang jelas
Setiap karangan pada dasarnya adalah serangkaian ide seseorang yang telah
ditata dan dituangkan menjadi sebuah garis besar. Penulisan suatu karangan
tidak lain ialah mewujudkan garis besar itu manjadi rangkain alinea yang
berkesinambungan dari alinea awal sampai alinea akhir secara tertib dalam
kalimat-kalimat yang jelas dan lengkap. Teknik yang tepat dalam mengarang
adalah mengungkapkan satuan-satuan ide yang telah dikembangkan terlebih dahulu
kedalam rangkaian kalimat-kalimat.
Rangkaian ide seseorang yang telah dituangkan dalam sebuah garis besar
karangan perlu ditulis sehingga menjadi alinea-alinea yang dapat dibedakan
menjadi 3 kelompok :
- Alinea awal (merupakan bagian pembukaan karangan)
- Alinea tengah (bisa lebih dari pada satu alinea bila mana pokok-pokok pikiran yang akan diuraikan cukup luas.) ini menjadi bagian batang tubuh karangan.
- Alinea akhir (bagian penutup karangan)
E. Jenis-Jenis Karangan dalam Bahasa Indonesia
Berdasarkan pengertian mengarang
yang telah penulis kemukakan di atas, maka mengarang merupakan kegiatan
berbahasa tulis, hasil kegiatan itu disebut karangan.
Pengklasifikasian karangan dapat
ditinjau dari dua segi. Ditinjau dari segi isi, maka karangan dapat dibedakan
menjadi karangan fiksi dan nonfiksi atau rekaan dan ilmiah. Kedua karangan ini
memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Karangan fiksi (rekaan) berisi cerita
yang bukan kenyataan tetapi merupakan hayalan atau imajinasi pengarang,
sedangkan karangan ilmiah (non fiksi) merupakan karangan yang isinya dapat
dibuktikan dan dipertanggungjawabkan berdasarkan ilmu karena bersifat ilmiah.
Karangan ilmiah (fiksi) menggunakan bahasa dengan kata yang bermakna konotasi.
Ditinjau dari cara menyampaikan
masalahnya dalam karangan, maka karangan dapat dibagi menjadi beberapa jenis.
1.
Karangan Narasi
Karangan
Narasi merupakan karangan yang biasanya dihubung - hubungkan dengan cerita.
Oleh sebab itu sebuah karangan narasi atau paragraf narasinya hanya kita
temukan dalam novel. Cerpen, atau hikayat (Zaenal Arifin dan Amran Tasai,
2002:130). Narasi juga merupakan karangan kisahan yang memaparkan terjadinya
sesuatu peristiwa, baik peristiwa kenyataan, maupun peristiwa rekaan (Rusyana,
1982:2).
Secara
sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau
kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang
menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik
merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga
unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan
berdasarkan plot atau alur.
Narasi dapat berisi fakta atau fiksi.
a.
Narasi
yang berisi fakta: biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman..
Contoh Karangan Narasi berisi fakta:
Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama
adalah seorang nasionalis. Ia memimpin PNI pada tahun 1928. Soekarno
menghabiskan waktunya di penjara dan di tempat pengasingan karena keberaniannya
menentang penjajah.
Soekarno mengucapkan pidato tentang dasar-dasar
Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni
1945.
Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa
Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno
dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada
tahun 1949.
Jiwa kepemimpinan dan perjuangannya tidak pernah
pupus. Soekarno bersama pemimpin-pemimpin negara lainnya menjadi juru bicara
bagi negara-negara nonblok pada Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.
Hampir seluruh perjalanan hidupnya dihabiskan untuk berbakti dan berjuang
b. Narasi yang berupa fiksi: novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.
Contoh Karangan Narasi fiksi:
Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin
yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan
kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang
terasa begitu menyiksa.
Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku
ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah
kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga?
Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun
kuusahakan untuk menepiskannya. Jangan, Bowo, sergah hati kecilku, jangan
biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Ratri, dia tengah menunggu kepulanganmu dengan
segenap cintanya.
2.
Karangan Eksposisi
Karangan eksposisi adalah karangan
yang menjelaskan, menerangkan, memberitahukan suatu masalah atau objek agar
orang lain mengetahuinya. Dari karangan ini diharapkan orang yang tidak
mengetahui menjadi tahu dan yang tidak jelas menjadi jelas setelah membaca
karangan ini.
Contoh karangan Eksposisi :
Rasa Takut
Pernahkan
Anda menghadapi situasi tertentu dengan perasaan takut ? Bagaimana cara
mengatasinya ? Rasa Takut adalah rasa dimana seseorang merasa bahwa dirinya
sedang mengalami situasi atau suasana yang menghilangkan rasa percaya diri
mereka akan sesuatu. Di bawah ini ada lima jurus untuk mengatasi rasa takut
tersebut.
Pertama,
persipakan diri Anda sebaik-baiknya bila menghadapi situasi atau suasana
tertentu. Dengan memperiapkan diri saat menghadapi situasi atau suasana
tertentu Anda akan merasa siap bahkan merasa bahwa Anda telah melewati situasi
dan suasana tersebut.
Kedua,
pelajari sebaik-baiknya bila menghadapi situasi tersebut. Anda harus
mempelajari baik-baik situasi apa yang sedang Anda hadapi baik ditempat sepi
maupun dikeramaian. Karena Anda akan merasa siap dengan segala suasana dan
situasi yang telah Anda pelajari.
Ketiga,
pupuk dan binalah rasa percaya diri.kepercaya dirian merupakan kunci utama anda
dalam mengatasi rasa takut. Dengan percaya diri Anda merasa bahwa Anda mampu
melewati situasi dan suasana yang akan Anda lalui tanpa terhalang oleh rasa
takut.
Keempat,
setelah timbul rasa percaya diri, pertebal keyakinan Anda. Keyakinan Anda dalam
mengadapi rasa takut harus dipertebal agar Anda mapu dan yakin bahwa rasa takut
iu akan hilang dengan kepercayaan diri yang kuat dan keyakinan yang tinggi
Kelima,
untuk menambah rasa percaya diri, kita harus menambah kecakapan atau keahlian
melalui latihan atau belajar sungguh-sungguh. Anda juga haarus memiliki
keahlian dan kecakaapan dalam suatu bidang, agar rasa percaya diri anda kuat
dan menghilangkan rasa takut yang melanda Anda
3.
Karangan Argumentasi
Karangan argumentasi adalah karangan
yang mengutarakan alasan untuk membuktikan sesuatu, dengan maksud meyakinkan
pembaca tentang sesuatu yang menjadi topik dalam karangan itu.
Contoh
karangan argumentasi :
Kesuburan
Tanah
Mempertahankan
kesuburan tanah merupakan syarat mutlak bagi tiap-tiap usaha pertanian. Selama
tanaman dalam proses menghasilkan, kesuburan tanah ini akan berkurang. Padahal
kesuburan tanah wajib diperbaiki kembali dengan pemupukan dan penggunaan tanah
itu sebaik-baiknya. Teladan terbaik tentang cara menggunakan tanah dan menjaga
kesuburannya dapat kita peroleh pada hutan yang belum digarap petani.
Kesuburan
tanah sangat berpengaruh terhadap kesuburan tanaman bagi para petani. Tak hanya
baik bagi kesuburan tanah tapi juga akan memperbaiki kualitas dari tanaman
sehingga akan mampu menghasilkan niali rupiah yang baik bagi petani.
4.
Karangan Deskripsi
Karangan deskripsi adalah karangan
yang memaparkan, menggambarkan secara rinci dengan menyertakan bukti-bukti
sehingga pembaca seolah-seolah terlibat didalamnya secara langsung.
Contoh karangan deskripsi :
Apotik
Siang itu
aku sedang duduk santai di sofa empuk di dalam apotik milikku yang baru saja
dibuka. Apotik ini adalah impianku sejak aku kuliah di Farmasi dulu. Sekarang
aku memandang puas pada usahaku selama ini. Aku bisa mendirikan apotik di kota
kelahiranku.
Apotik ini
cukup luas, beberapa rak besar tempat obat-obatan berjejer rapi dengan
kemasan-kemasan obat warna-warni yang dikelompokkan menurut farmakologinya dan
disusun alfabetis. Pandangan saya tertuju pada rak buku di pojok ruangan yang
berisi buku-buku tebal. Ku ambil satu buku yang disampulnya tertulis Informasi
Spesialis Obat atau yang biasa disebut kalangan farmasi dengan buku ISO.
Setelah ku
pandangi aku tersenyum dan mengembalikannya ke tempat semula. buku ini adalah
buku pertama yang kubeli saat aku kuliah dulu. Aku memandang lagi secara
keseluruhan apotik ini, sebuah televisi 14 inci dan sebuah computer di meja
kasir. Hembusan angin
5.
Karangan Persuasi
Karangan persuasi adalah adalah
karangan yang mempengaruhi, mengajak, menganjurkan sesuatu kepada orang lain
uyntuk berbuat atau bertindak sesuai dengan yang diharapkan pengarang.
Contoh karangan Persuasi :
Sistem
Pendidikan Indonesia
Sistem
pendidikan di Indonesia yang dikembangkan sekarang ini masih belum memenuhi
harapan. Hal ini dapat terlihat dari keterampilan membaca siswa kelas IV SD di
Indonesia yang berada pada peringkat terendah di Asia Timur setelah Philipina,
Thailand, Singapura, dan Hongkong.
Selain itu,
berdasarkan penelitian, rata-rata nilai tes siswa SD kelas VI untuk mata
pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA dari tahun ke tahun semakin
menurun. Anak-anak di Indonesia hanya dapat menguasai 30% materi bacaan. Kenyataan
ini disajikan bukan untuk mencari kesalahan penentu kebijakan, pelaksana
pendidikan, dan keadaan yang sedang melanda bangsa, tapi semata-mata agar kita
menyadari sistem pendidikan kita mengalami krisis.
Oleh karena
itu, semua pihak perlu menyelamatkan generasi mendatang. Tidak hanya dari
pemerintah sebagai penyedia sumber pendidikan, namun yang lebih penting adalah
kesadaran dari berbagai pihak. Termasuk anak itu sendiri. Hal tersebut dapat
memperbaiki sistem pendidikan nasional.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah dibahas dalam bab sebelumnya akhirnya penulis dapat menarik
kesimpulan bahwa Karangan adalah suatu karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan
gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami.
Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi,
deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.
.Jadi jika kita ingin membuat suatu karangan yang
sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur maka sebelum pembuatan
karangan itu harus terlebih dulu kita membuat sebuah kerangka karangan agar
pada karangan tersebut menjadi terarah dan tidak keluar dari topik atau
tema yang dituju.
B. Saran
Dalam pembuatan karangan haruslah di buat suatu
kerangka karangan agar mendapatkan suatu hasil karangan yang sistematis, logis,
jelas, terstruktur dan teratur tentunya akan menghasilkan suatu karangan yang
berkualitas.
Daftar
Pustaka
Anonim.2012. Apa Pengertian
Karangan dan Jenis-jenis Karangan dalam Bahasa Indonesia .(online) (http://nesaci.com/apa-pengertian-karangan-dan-jenis-jenis-karangan-dalam-bahasa-indonesia/) Diakses pada tanggal 26
November 2012
Tirta.2012.
Contoh Karangan (online)(http://tirtanizertrs.blogspot.com/2012/03/contoh-karangan-deskripsi-narasi.html) Diakses
pada tanggal 27 November 2012
Rusyana, Yus.
1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: Gunung Larang
Tasai Amran
S. , E Zaenal Arifin. 2002. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan
Tinggi. Jakarta : Akademika Pressindo
Langganan:
Postingan (Atom)